Skip to main content

Terimakasih(cerita singkat)


 Terimakasih Tuhan

 

Neri begitu Ia di sapa dalam keluarga, kerabat  dan oleh teman-temannya di sekolah. Dia hidup dalam keluarga kecil, penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Hidupnya sederhana, Dia memahami betul latar belakang keluarga dan pekerjaan kedua Orang Tuanya. 

Ayah dan Ibunya hanya buruh ladang dengan penghasilan yang tidak tetap dalam setiap bulannya. Begitu pula dengan Dua Adiknya yang belum sekolah, mereka paham dengan keadaan keluarga dan pekerjaan dari kedua Orang Tua mereka.

Bagi mereka makan nasi setiap malam adalah santapan yang sangat istimewa.

Selain kesederhanaan yang dimilikinya,  Neri juga Anak yang pandai melihat keadaan dan situasi Orang Tuanya, Dia rajin menabung dari hasil jualan pisang goreng tetangganya. Dia melakukan ini setiap hari, sehabis mengikuti pelajaran di sekolah. 

Dengan kedua Adiknya, jika mereka tidak mengikuti Ibu dan Ayah ketempat mereka bekerja.
Terkadang teman-temannya di sekolah sering mengejek ketika Dia mengenakan pakian yang kusut, robek dan bahkan tidak memakai alas kaki seperti temannya lain.

Teng..teng..teng..teng bunyi lonceng di siang itu, teman-teman menyambut dengan senang hati dan ada juga dengan suara yang melengking. Bunyi lonceng ini pertanda jam pelajaran di hari itu telah usai, ini sudah menjadi kebiasaan kami setiap harinya.

Setelah doa selesai sebagian teman-teman berlari menuju pintu kelas untuk keluar duluan, yang punya tas, berlari sambil sambil memikul tas sedangkan yang tidak punya, hanya bisa menenteng buku-buku ditangan. Di hari itu ada yang berbeda, dengan Neri. Wajahnya terlihat kusut. Dia memilih untuk keluar paling terahkir dari ruang kelas.

Dia bergegas dari tempat duduknya, sambil mengambil beberapa buku-buku nya diatas meja.
Beberapa teman sekelasnya masih terdengar suaranya di luar kelas dengan sentakan kaki yang bersulut sambil lompat-lompat dan teriak. 

Dia keluar dari dalam ruang kelas, teman-temannya menghampiri Dia dengan nada suara yang pelan.

Neri, dari dulu sampai sekarang Kami lihat pakian seragammu tidak pernah ganti, ini nhe sudah robek, rokmu juga kusut banyak robeknya lagi, hanya di jahit-jahit terus. Bilang dong sama Orang Tuamu beli seragam baru. 

Lihat punya Kami ini baru di beli minggu yang lalu.

Neri hanya melemparkan senyum dengan mereka.
Hmmm sandalmu mana? Bilang lah Orang Tua mu beli sandal masa anak gadis di biarkan jalan tanpa alas kaki setiap harinya, parah Orang Tuamu.

Lagi-lagi Dia menjawab dengan senyum dan sedikit bersuara, teman-teman Aku merasa sedih dengan penderitaan Orang Tuaku, memenuhi makan setiap hari saja Orang Tuaku susah teman-teman. tidak seperti kalian yang serba ada, Aku pun sudah memahami itu.

Di akhir ucapannya, Dia melemparkan senyum manis pada teman-temanya.
Setibanya di rumah Dia, mendorong pintu dapur yang tidak terkunci. 

Ini kebiasaan dari kedua Orang Tuanya ketika mereka pergi ataupun istirahat. Di siang itu, baginya ada pemandangan yang berbeda dimatanya dan bahkan pada pendengarannya. 

Biasanya, Adik-Adiknya yang masih kecil sibuk bermain setelah makan dan Ibunya telah menyiapkan makanan di periuk yang menggantung di dekat tungku.

Ibu...ibu, Alan...Alan...tapi tak ada satupun yang menyambut suaranya. Ibu kemana? Ya...terus Adik-Adik ku kemana? Kalau mereka kebun tidak mungkin tadi pagi Ibu tidak memberitahuku kalau hari ini mereka kekebun. Ucapnya dalam hati dengan raut wajah yang bingung.

Dia menuju kamarnya dan mengganti pakian, sementara ganti Dia mendengar suara tetangga memanggil bocah kecilnya yang lagi bermain di halaman rumah mereka.
Mendengar itu, Dia keluar.

Permisi Bu
Eh Nery ayo masuk Nak
Iya makasi Bu. Bu ada lihat mama?
Iya mereka dirumah Nak tidak kemana-mana
Oh..makasi ya Bu.

Dia pulang kerumah dan langsung kekamar Ibu nya.
Ibu..Ibu...bangun kalian kenapa?

Mamanya bangun dengan badan yang lemas.

Ner...Ibu lapar Nak, Mama sama Adik-Adikmu belum makan.
Perlahan Dia menurunkan kakinya dari tempat tidur, menuju kamar sambil mengusap air mata yang menetes di pipihnya. Dia mengambil celengan kecilnya yang terbuat dari potongan bambu.


Ia mengambil Uang tabungannya itu, yang banyak di isi dengan Uang logam dan Uang seribuan. Sambil duduk bersandar di pintu kamar, Ia bersuara dengan pelan “ya... nanti saja baru Saya beli seragam” Saya tidak tega melihat Mama dan Adik-adikku menderita kelaparan seperti ini, syukur Saya lihat mereka. Dengan air mata yang terus mengucur membasahi pipinya.

Sementara menghitung uang tabungannya untuk beli beras, Dia berbicara dalam hati. Terimakasih Tuhan atas penyertaanMu pada keluargaku hari ini. Sehingga Aku pun dapat melihat Mama dan Adik-adik ku, andaikan Aku tidak melihat mereka, Aku tidak tahu apa yang terjadi pada keluargaku hari ini. Terimakasih Tuhan. 
Tamat


Comments

  1. cerita yang menarik, sekaligus mengajarkan kita untuk bersyukur apapun kedaannya, karena di luar sana banyak orang yang tidak seberuntung kita

    ReplyDelete
  2. oleh karena itu kita harus bersyukur pada tuhan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali Mas apapun itu...terimakasih ya sudah mampir

      Delete
  3. sangat menarik dan juga templatenya cepet banget.

    ReplyDelete
  4. wah sangat inspiratif gan, tentang cara bersyukur

    ReplyDelete
  5. Waw kena banget gan, Pesan moral nya jangan mudah untuk putus asa, walau terkadang membuat kita selalu merana, aseeek dah :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Budayakan membaca sebelum berkomentar. komentar harus sesuai cerita dan label. Dilarang menaruh link aktif dan juga spam. terimakasih kerja samanya.

CERITA POPULER

waktu adalah Uang(cerita humor)

Waktu adalah uang Disuatu kampung, memiliki tradisi yang sangat pekat. Yang mana, setiap penutupan tahun kampung tersebut mengadakan berbagai kegiatan, salah satunya evaluasi penghasilan petani untuk seluruh mayarakyat kampung itu. 

Pada kesempatan itu, pembawa acara memberikan kesempatan kepada kepala suku untuk menyampaikan pidato didepan masyarakat yang hadir. Emsi : Baiklah Bapa/Ibu sekalian, pada kesempatan ini, kita akan mendengarkan pidato singkat dari kepala suku. Waktu dan kesempatan saya berikan. 

Semua masyarakat menyambut kepala suku dengan tepuk tangan yang meriah. Kepala suku : Baik terimakasih atas kesempatan yang di berikan, Bapa/Ibu yang saya banggakan patutlah kita bersyukur kepada Tuhan yang Maha Essa karena penghasilan kita tahun ini sangat-sangat minim, mari kita tepuk tangan. Semua Masyarakat bersorak sorai dan bertepuk tangan, dan bahkan diantara mereka ada yang geleng-geleng kepala mendengar kata-kata yang sampaikan oleh pemimpin mereka. Masyarakat : waaaa...kepala su…

Sms No sex dan Sara adalah penipuan(cerita penting)

Sms No sex dan Sara adalah penipuanAwalnya saya sempat bingung dengan sms tersebut, dan saya sempat bertanya dalam hati. Darimana Dia mendapatkan nomor saya? Ketika itu saya mengabaikannya. Esok harinya sms ini pun muncul lagi.
Begitu juga dengan hari-hari selanjutnya, anehnya sms ini muncul dengan Nomor yang berbeda. 

Saya coba telfon nomor pengirimnya tapi "tidak bisa dihubungi" Kemudian di nomor yang minta untuk dihubungi juga, dengan nomor yang berbeda-beda. Setiap kali mengirim sms ke saya. 

Hari pertama, kedua dan selama satu minggu, sms ini dikirim ke Saya hampir setiap hari.
Dengan jam yang berbeda.
Pada minggu kedua sms ini pun, kembali masuk di nomor Saya, lalu Saya telfon menggunakan kartu tri Saya, di nomor yang tertera dalam sms tersebut 08091xxxxxx  satu menit telfon,  pulsa 10000 ribu habis. 
Saya kesal dan sempat marah, mau bilang apa? Ini kan salah sendiri. Tak terhenti disitu, besok dan besoknya lagi sms ini terus bermunculan masuk di nomor Saya. Dan waktu itu …

Tukang bengkel yang baik (cerita singkat)

Aneh tapi lucu (cerita humor)

Tiga bersaudara Sebelum tiga bersaudara ini berpisah untuk merantau, mereka berjanji untuk menghabiskan tiga gelas kopi dalam sehari. sebagai tanda persaudaraan mereka. Salah satu sudara di antara mereka yang sudah lebih dulu berada di perantauan. Pergi ke warung yang sama setiap harinya di warung itu, pemuda ini selalu membelikan sasetan kopi yang sama dan dengan jumlah yang sama.  Suatu hari pemilik warung bertanya kepada pemuda tersebut. Mas Saya melihat kamu selama ini, selalu membeli kopi yang sama dan dengan jumlah yang sama?.
Lalu pemuda itu menjawab,....begini pak, kami ini tiga bersaudara satunya di pulau kayu, satunya lagi di pulai daun dan saya disini. Sebelum kami berangkat ke tempat kami masing-masing, kami punya perjanjian Pak. Yaitu, menghabiskan tiga gelas kopi dalam sehari untuk mengenang persaudaraan kami. Ow,,,,,,begitu, kata si pemilik warung.
Seminggu setelah itu, pemuda ini tidak pernah datang ke warung lagi, dan jarang terlihat di kompleks tempat Ia tinggal dan berk…

arti kata coconut(cerita humor)

Arti kata coconut
Coconut kata yang tak terlepas dari ingatan Boy, tak tahu darimana Dia mendengar kata ini.
Namun sayangnya, dia sendiri sama sekali tidak mengetahui arti kata”coconut” Kata ini pun menjadi santapan dalam pikirannya setiap saat Boy ingin tahu tapi dia sendiri kewalahan kepada siapa dia “caritahu untuk mengetahui arti kata ini?”
Suatu kesempatan dia lewat di depan rumah sahabatnya dan dia melihat temannya yang sedang duduk santai didepan teras rumahnya.
Permisi kawan sambil melayangkan senyum manisnya pada renal...
Eh...boy...mari duduk sini kawan. Sambut Renal dengan semangat. Sambil menikmati susana sore yang dingin dan sejuk. Boy bersisik pada Renal. Kawan bisakah saya bertanya? Iya bisa kawan. Kawan mau tanya apa, Lanjut Renal.
Boy cerita: jadi begini kawan, selama ini kata itu selalu ada dalam pikiran saya. Saya berusaha untuk lupa tapi gagal kawan. Renal : hahahahaha kata apa kawan. Boy : coconut kawan, tolong kawan, jelaskan ke saya apa artinya. Renal menunduk kepalanya denga…

Cinta tak pernah berakhir(cerita singkat)

Jeritan Alam ( Puisi )

Jeritan Alam Dia menjerit jeritannya tak bersuara
Dia menangis dalam tangisan tak bersuara
Dia menangis dengan air mata tak terlihat
Dia mengeluh dalam diam. Diam tak bersuara
Dia sunyi
Dia senyap
Burungpun hinggap di dahan kerontang yang lusuh, bukan dimakan usia.
Mereka ingin kembali terlihat, hanyalah hamparan yang menghampa Dalam gelisah pun mereka beranjak.
Dia menangis
Dia menangis
Ketika melihat si merah melalap, biru udara pun menyambung Dengan selimut hitam yang kian  pekat mengangkasa.

Tersisa hanyalah bercak hitam terhampar dan mengapung di tanah yang kering Sebentar lagi Dia ketepi dan lenyap. Lenyap dari pandangan
Baca juga:puisi rindu mengalungkan asa dan juga puisi aku didalam kamu
Penulis, Admin blog Kota tua, 20 april 2017

Tulisan si Boy(cerita singkat)

Tulisan Si Boy Tidak seperti biasanya, pagi itu, Andy mendahului kami semua. Tumben, pagi itu Dia berangkat pagi-pagi ke sekolah. Semenjak satu minggu yang lalu, kami menyelesaikan ujian tengah semester. Beberapa mata pelajaran hasilnya telah kami terima.
Bring...bring...bring, bunyi lonceng sebagai tanda bahwa sebentar lagi pelajaran di mulai. Dengan formal seperti biasa. Andy ayo masuk kelas ajakku dengan senyum.
Ndy...tumben kamu datang pagi-pagi hari ini, ada apa ya. Apakah aku tak bermimpi melihatmu pagi ini?
Hmmm...memangnya kenapa Jov,,,ko kamu bilang seperti itu! Aku kan rajin Jov, Kamu tahukan itu? Iya Ndy! Tapi tumben pagi ini, Kamu datang pagi-pagi dan bahkan mendahului kami semua.
Ayolah kita masuk kelas nanti baru kita bicarakan itu tegasnya dengan wajah yang sedikit murung. Beberapa menit dalam kelas, Dia melemparkan secarit kertas ke bahuku. Jov nilai ujianmu kemarin berapa?
Hmmm,,,Ips aku dapat nilai 8,5, Ndy. Kamu lihat punya saya tidak? Tidak Ndy, jawab Jov. Sebenarnya Dia …