Skip to main content

Kesabaran(cerita singkat)


cerita singkat tanah tandus


Di sebuah desa, daerah pedalaman memiliki tradisi tersendiri. Yang mana, setiap warga berhak mendapatkan tanah yang dibagikan oleh kepala suku mereka. Tak jarang pula banyak masyarakat yang komplen dengan keluarga kepala suku maupun kepala suku sendiri, karena menganggap mereka mendapatkan tanah yang kurang subur.

Pada suatu kesempatan, kepala suku mengundang semua warganya untuk membagi lokasi tanah baru untuk dijadikan ladang bagi warganya. Mendengar informasi ini, pagi-pagi semua warga desa berkumpul di halaman rumah kepala suku untuk mendengar pembacaan nama dan lokasi tanah masing-masing keluarga. Dengan  jumlah warga yang cukup banyak.

Salah satu warga dan anggota kelurganya tidak berada di kampung saat itu. Mereka pergi mengunjung mertua, ibu dari istrinya. yang kebetulan sedang sakit. Ketika nama suami atau kepala keluarga ini disebut dan dipanggil oleh kepala suku, semua warga menoleh kebelakang dan ada juga yang teriak memanggil nama dari sang petani yang hidup dengan penuh kesederhana ini.

Dia pun tak kunjung datang, kepala suku menyuruh pendampingnya untuk menanyakan si petani ini kepada seorang tetangganya yang turut hadir.
"Pak...pak sabit bersama keluarganya dirumah atau tidak?"
Tanya pendamping kepala suku kepada tetangga pak sabit.
Aduh...pak mereka sekeluarga ada kekampung istrinya. Ibu mertuanya lagi sakit. jawab tetangga pak sabit.
"Oh...iya pak"

Jadi...begini saja, kalau memang bagian yang disebut kepala suku tadi itu bagiannya pak Sabit biar saya saja yang terima. Nanti, kalau dia pulang baru saya sampaikan. lanjut tetangganya pak Sabit.
"Pendamping kepala suku pun, memberitahukan ini pada kepala suku"

Mendengar ini, salah seorang warga  berteriak sambil bicara: pak ini tidak adil, saya tidak setuju pak! Ucap sala seorang warga ini dan diikuti oleh warga yang lain. Mendengar ucapan dan omongan warga yang semakin ramai, kepala suku mengangkat tangan kananya. Tenang...tenang...bapa/ibu.

Kalau kalian menilai seperti itu, ya...sudah biar Pak Sabit mendapatkan bidang tanah yang sisah dari hasil pembagian kita saat ini.

Sehari kemudian
Pak Sabit bersama anak dan istrinya pulang kekampung. Melihat asap api yang menyembur keliling atap rumah, Pak Corang pergi bertamu. sekaligus memberi tahu Pak Sabit, hasil pembagian tanah yang telah dilakukan kemarinnya.

Selamat sore...
E...Pak Cor,,,mari pak silakan duduk tumben ya bertamu sore-sore
ucap Pak Sabit sambil mengisih air ke panci untuk membuat kopi.
Sementara istrinya lagi sibuk mencuci piring.
Sambil menikmati kopi, Pak Cor menceritakan hasil pembagian tanah yang diadakan kepala suku kemarin.

Pak Sabit, bukan saya tidak beritahukan hal ini kepada kepala suku dan kemarin itu, saya sampaikan pada kepala suku lewat pendampingnya, kalau bagian kalian itu diberitahukan kepada saya nanti saya yang beritahukan kalian.
Ungkap Pak Cor dengan wajah yang bersedih

Tapi ya...hampir semua warga berteriak mereka mengatakan kalau kepala suku meng iya kan apa yang Saya sampaikan kepada pendampignya. mereka bilang kepala suku"itu tidak adil pak!" Dan bahkan semua warga pun menyeruhkan seperti itu.

Lalu apakah saya tidak dapat bagian pak? Sambung Pak Sabit.
Tidak juga pak...tapi kamu mendapatkan bidang tanah yang paling terakir. Bersebelahan dengan saya. Tapi pak Sabit tahu sendirikan tanah itu, dibagiannya kita itu tidak menghidupkan apa-apa jangankan pohon-pohon kecil, rumput saja susah,Pak.

Ya kita memang senasip Pak lanjutnya lagi sambil meletakan batangan rokok diatas asbak. 
Ya sudah pak itu adalah takdir, tapi kita harus mensyukuri itu pak, karena pak kepala masih mengingat saya. Dan memberikan saya sebagian tanah itu.

Tapi paling tidak, dia membagikan kita tanah yang agak subur seperti yang lain. jawab Pak Corang.
Ah...tidak perlu begitu Pak Cor yang penting kita dapat. Soal tanah ini, kan kita yang kelolah yang tandus jadi tidak tandus, yang tidak subur jadi subur. Tergantung bagaimana cara kita mengelolahnya. Lanjut pak sabit.
Betul juga itu pak.
Jawab Pak Cor...sambil berdiri dan pamit pulang.

Setahun kemudian, warga desa yang lainnya sudah menikmati hasil panenan mereka dari kebun yang dibagikan bersamaan dengan pak sabit. Sementara Pak Sabit, dan Pak Corang, meluntang-lantung cari cara dan ide untuk mengelolah bagian tanah mereka untuk menjadi subur dan bisa menghidupkan tanaman yang mereka tanam. Namun usaha-usaha mereka "gagal" belum tepat.

Suatu kesempatan Pak Cor bertemu dengan pak sabit dikebunnya.

Pak Sabit saya tidak sanggup lagi pak "kesabaran saya sudah habis" ucap Pak Cor dengan wajah kesal. Lebih baik saya kerjakan tanah saya yang ada ketimbang saya menghabiskan waktu untuk mengerjakan tanah yang tidak menghasilkan apa-apa ini, lanjutnya dengan sambil mengusap wajah yang penuh keringat.

Sabar pak...sabar! suatu saat pasti kita menemukan ide yang tepat dan cara yang pas. Tuhan tidak mungkin membiarkan kita ketika melihat situasi yang kita alami saat ini. Jadi sabar ya pak. Jangan putus asah. Ucap Pak Sabit dengan penuh semangat.

Sementara tetangga kebun yang bersebalan dengan kebun mereka bercanda ria, sambil memanen ubi,pisang serta sayuran-sayuran yang telah mereka tanam.

Kamu dengar, itu mereka sudah menikmati hasilnya. Kita? Masih cangkul...cangkul dan cangkul terus. kata Pak Cor sambil menggulung kertas tembakaunya.

Pak...kita itu harus sabar...itu adalah bagian mereka Pak dan pantas mereka menikmatinya. kita juga akan seperti itu kalau kita terus berusaha mencari daya dan cara untuk mengelolah tanah ini. Suatu saat nanti, kita akan senyum dan bahagia sama seperti  mereka "intinya jangan putus asah pak".

Awal tahun yang ketiga, pak sabit bertemu dengan seorang pemuda tampan dalam perjalanan menuju kampung mertuanya.
Pak Sabit menatap dan menyapa pemuda ini dengan dengan ramah dan senyum. Mereka berjabat tangan sambil menelusuri jalan yang sempit itu. singkat cerita, Pak Sabit menceritakan tentang tanah yang mereka dapatkan dari pembagian kepala suku kepada pemuda ini.


Dengan serius pemuda ini bertanya kepada Pak Sabit. Apakah Bapak ada pelihara kambing?
Iya ada anak muda...jawab Pak Sabit dengan sedikit bingung.

Lalu ada apa dengan kambing saya anak mudah, apakah anak muda sedang mencari kambing?
Bukan pak...jawab pemuda itu dengan sepontan.

Jadi, kalian membuat kandang kambing kalian di kebun kalian yang tanahnya tandus itu. Dan tempatkan kotoran kambing disetiap pohon yang kalian tanam, juga diseluruh kebun kalian itu.  Saya yakin, itu tidak membutuhkan waktu cukup lama pak.
 
Adu anak mudah terimakasih banyak anak muda terimakasih "saya akan lakukan apa yang anak bagikan ke saya pada hari ini" selama beberapa tahun yang telah lewat kami tidak pernah melakukan hal yang seperti anak beritahu saya hari ini. terimakasih anak mudah terimakasih. ucap Pak Sabit dengan senyum dan penuh semangat.

Keesokan harinya, setalah tiba dari kampung mertua, Pak Sabit menceritakan apa yang disampaikan seorang pemuda yang ia ketemui dalam perjalanan kekampung mertuanya, kepada Pak Corang.

Dan diminggu berikutnya mereka membuat kandang kambing di kebunmereka  masing-masing. Tahun yang ke empat, Pak Sabit dan Pak Corang sudah bisa menikmati sedikit panenan dari kebun mereka tersebut.
 
Dan di tahun-tahun selanjutnya,  mereka menikmati hasil yang cukup dan memuaskan mereka dari tanah tandus tersebut. 
Tamat

pesan"cerita singkat tanah tandus".


Penggalan cerita yang dialami kedua petani yang hidup dengan penuh kesederhanaan ini. memberikan kita, gambaran akan "kesabaran" dan juga ketabahan dalam menghadapi tantangan hidup, putus asah dan tidak sabar bukan jawaban dari apa sedang kita alami. 
Justru hal itu akan membawa kita ke banyak hal dan juga pengalaman. selain itu kita dapat menikmati hasil dari semuanya itu.





Comments

CERITA POPULER

waktu adalah Uang(cerita humor)

Waktu adalah uang Disuatu kampung, memiliki tradisi yang sangat pekat. Yang mana, setiap penutupan tahun kampung tersebut mengadakan berbagai kegiatan, salah satunya evaluasi penghasilan petani untuk seluruh mayarakyat kampung itu. 

Pada kesempatan itu, pembawa acara memberikan kesempatan kepada kepala suku untuk menyampaikan pidato didepan masyarakat yang hadir. Emsi : Baiklah Bapa/Ibu sekalian, pada kesempatan ini, kita akan mendengarkan pidato singkat dari kepala suku. Waktu dan kesempatan saya berikan. 

Semua masyarakat menyambut kepala suku dengan tepuk tangan yang meriah. Kepala suku : Baik terimakasih atas kesempatan yang di berikan, Bapa/Ibu yang saya banggakan patutlah kita bersyukur kepada Tuhan yang Maha Essa karena penghasilan kita tahun ini sangat-sangat minim, mari kita tepuk tangan. Semua Masyarakat bersorak sorai dan bertepuk tangan, dan bahkan diantara mereka ada yang geleng-geleng kepala mendengar kata-kata yang sampaikan oleh pemimpin mereka. Masyarakat : waaaa...kepala su…

Sms No sex dan Sara adalah penipuan(cerita penting)

Sms No sex dan Sara adalah penipuanAwalnya saya sempat bingung dengan sms tersebut, dan saya sempat bertanya dalam hati. Darimana Dia mendapatkan nomor saya? Ketika itu saya mengabaikannya. Esok harinya sms ini pun muncul lagi.
Begitu juga dengan hari-hari selanjutnya, anehnya sms ini muncul dengan Nomor yang berbeda. 

Saya coba telfon nomor pengirimnya tapi "tidak bisa dihubungi" Kemudian di nomor yang minta untuk dihubungi juga, dengan nomor yang berbeda-beda. Setiap kali mengirim sms ke saya. 

Hari pertama, kedua dan selama satu minggu, sms ini dikirim ke Saya hampir setiap hari.
Dengan jam yang berbeda.
Pada minggu kedua sms ini pun, kembali masuk di nomor Saya, lalu Saya telfon menggunakan kartu tri Saya, di nomor yang tertera dalam sms tersebut 08091xxxxxx  satu menit telfon,  pulsa 10000 ribu habis. 
Saya kesal dan sempat marah, mau bilang apa? Ini kan salah sendiri. Tak terhenti disitu, besok dan besoknya lagi sms ini terus bermunculan masuk di nomor Saya. Dan waktu itu …

Tukang bengkel yang baik (cerita singkat)

Aneh tapi lucu (cerita humor)

Tiga bersaudara Sebelum tiga bersaudara ini berpisah untuk merantau, mereka berjanji untuk menghabiskan tiga gelas kopi dalam sehari. sebagai tanda persaudaraan mereka. Salah satu sudara di antara mereka yang sudah lebih dulu berada di perantauan. Pergi ke warung yang sama setiap harinya di warung itu, pemuda ini selalu membelikan sasetan kopi yang sama dan dengan jumlah yang sama.  Suatu hari pemilik warung bertanya kepada pemuda tersebut. Mas Saya melihat kamu selama ini, selalu membeli kopi yang sama dan dengan jumlah yang sama?.
Lalu pemuda itu menjawab,....begini pak, kami ini tiga bersaudara satunya di pulau kayu, satunya lagi di pulai daun dan saya disini. Sebelum kami berangkat ke tempat kami masing-masing, kami punya perjanjian Pak. Yaitu, menghabiskan tiga gelas kopi dalam sehari untuk mengenang persaudaraan kami. Ow,,,,,,begitu, kata si pemilik warung.
Seminggu setelah itu, pemuda ini tidak pernah datang ke warung lagi, dan jarang terlihat di kompleks tempat Ia tinggal dan berk…

arti kata coconut(cerita humor)

Arti kata coconut
Coconut kata yang tak terlepas dari ingatan Boy, tak tahu darimana Dia mendengar kata ini.
Namun sayangnya, dia sendiri sama sekali tidak mengetahui arti kata”coconut” Kata ini pun menjadi santapan dalam pikirannya setiap saat Boy ingin tahu tapi dia sendiri kewalahan kepada siapa dia “caritahu untuk mengetahui arti kata ini?”
Suatu kesempatan dia lewat di depan rumah sahabatnya dan dia melihat temannya yang sedang duduk santai didepan teras rumahnya.
Permisi kawan sambil melayangkan senyum manisnya pada renal...
Eh...boy...mari duduk sini kawan. Sambut Renal dengan semangat. Sambil menikmati susana sore yang dingin dan sejuk. Boy bersisik pada Renal. Kawan bisakah saya bertanya? Iya bisa kawan. Kawan mau tanya apa, Lanjut Renal.
Boy cerita: jadi begini kawan, selama ini kata itu selalu ada dalam pikiran saya. Saya berusaha untuk lupa tapi gagal kawan. Renal : hahahahaha kata apa kawan. Boy : coconut kawan, tolong kawan, jelaskan ke saya apa artinya. Renal menunduk kepalanya denga…

Cinta tak pernah berakhir(cerita singkat)

Jeritan Alam ( Puisi )

Jeritan Alam Dia menjerit jeritannya tak bersuara
Dia menangis dalam tangisan tak bersuara
Dia menangis dengan air mata tak terlihat
Dia mengeluh dalam diam. Diam tak bersuara
Dia sunyi
Dia senyap
Burungpun hinggap di dahan kerontang yang lusuh, bukan dimakan usia.
Mereka ingin kembali terlihat, hanyalah hamparan yang menghampa Dalam gelisah pun mereka beranjak.
Dia menangis
Dia menangis
Ketika melihat si merah melalap, biru udara pun menyambung Dengan selimut hitam yang kian  pekat mengangkasa.

Tersisa hanyalah bercak hitam terhampar dan mengapung di tanah yang kering Sebentar lagi Dia ketepi dan lenyap. Lenyap dari pandangan
Baca juga:puisi rindu mengalungkan asa dan juga puisi aku didalam kamu
Penulis, Admin blog Kota tua, 20 april 2017

Tulisan si Boy(cerita singkat)

Tulisan Si Boy Tidak seperti biasanya, pagi itu, Andy mendahului kami semua. Tumben, pagi itu Dia berangkat pagi-pagi ke sekolah. Semenjak satu minggu yang lalu, kami menyelesaikan ujian tengah semester. Beberapa mata pelajaran hasilnya telah kami terima.
Bring...bring...bring, bunyi lonceng sebagai tanda bahwa sebentar lagi pelajaran di mulai. Dengan formal seperti biasa. Andy ayo masuk kelas ajakku dengan senyum.
Ndy...tumben kamu datang pagi-pagi hari ini, ada apa ya. Apakah aku tak bermimpi melihatmu pagi ini?
Hmmm...memangnya kenapa Jov,,,ko kamu bilang seperti itu! Aku kan rajin Jov, Kamu tahukan itu? Iya Ndy! Tapi tumben pagi ini, Kamu datang pagi-pagi dan bahkan mendahului kami semua.
Ayolah kita masuk kelas nanti baru kita bicarakan itu tegasnya dengan wajah yang sedikit murung. Beberapa menit dalam kelas, Dia melemparkan secarit kertas ke bahuku. Jov nilai ujianmu kemarin berapa?
Hmmm,,,Ips aku dapat nilai 8,5, Ndy. Kamu lihat punya saya tidak? Tidak Ndy, jawab Jov. Sebenarnya Dia …